PusatDapodik
Home Guru 5 Akibat Yang Akan Dialami Siswa Jika Menekan Dengan Kata-kata Merendahkan

5 Akibat Yang Akan Dialami Siswa Jika Menekan Dengan Kata-kata Merendahkan

Screenshot 1596

5 Akibat Yang Akan Dialami Siswa Jika Menekan Dengan Kata kata

Tidak dapat dipungkiri, seorang guru harus lebih mengenal siswanya satu sama lain, ada klasifikasi antara siswa yang mampu secara kognitif dan yang tidak. Ini wajar bagi siswa. Bodoh dan pintar hanyalah kata kiasan untuk membedakan siswa yang mampu dengan kata ‘Pintar’ dan mereka yang tidak mampu dengan kata ‘Bodoh’.

Selama ini mungkin guru sering membedakan siswa di sekolah dalam dua hal ini, yaitu “siswa yang bodoh atau pintar”. Pendapat kami tentang hal ini bukanlah suatu kesalahan, tetapi sangat perlu diluruskan. Karena sejatinya tidak ada kata bodoh dalam diri seorang siswa.

Dari pernyataan di atas, kita dapat berpikir bahwa tidak ada kata “bodoh” yang melekat pada siswa. Tetapi para siswa ini tidak dapat memanfaatkan apa yang telah diberikan. Salah satu buktinya adalah adanya rasa malas yang selalu melekat pada diri siswa. Inilah yang membuat klasifikasi siswa bodoh.

Apalagi bagi seorang pendidik untuk sangat berhati-hati saat menekan siswa, apalagi dengan mengeluarkan kata ‘bodoh’, tanpa disadari bahwa tekanan tersebut akan berdampak pada psikologis siswa, dan yang lebih parah lagi, siswa tersebut akan merasa dibedakan dan asing dengan teman-temannya yang lain. .

Dalam situasi di mana siswa tidak dapat melakukan sesuatu, tidak dapat melakukan sesuatu atau menjawab pertanyaan dengan benar, guru sering mengungkapkan kekecewaannya terhadap situasi tersebut dengan menggunakan kata-kata seperti ‘Kamu bodoh’, atau kata-kata serupa. Ada guru yang tidak merasa bersalah saat mengatakannya.

Fenomena semacam ini umumnya disebabkan oleh ketidaktahuan akan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kata-kata tersebut. Ada juga karena sudah ada kesepakatan sebelumnya dengan siswa, jika tidak bisa mengerjakan, tidak bisa mengerjakan, atau tidak bisa menjawab maka akan dikatakan bodoh.

Apa akibat dari menekan siswa dengan kata-kata yang merendahkan:

1. Rasa percaya diri akan berkurang

Kata-kata yang dikeluarkan oleh guru membuat siswa merasa bahwa itu adalah dirinya sendiri. Contoh sederhana saja, ketika seorang guru berkata bodoh kepada seorang murid, tentu dia sakit hati dan menganggap itu cerminan dirinya. Namun di sisi lain, alasan yang dikatakan guru tersebut adalah karena ia sedang kesal atau emosi.

Hal ini membuat rasa percaya diri siswa menurun. Dia merasa hanya ada kekurangan dalam dirinya. Padahal seharusnya, guru lebih bijak dalam memilih kata untuk siswa. Jangan hanya berkata tapi beri dia sedikit pengertian.

2. Takut ditolak

Seorang siswa akan mendapatkan pendidikan yang buruk jika gurunya tidak mampu bersikap dan berbicara dengan baik. Hal sederhana yang dilakukan guru adalah mengatakan kata-kata kasar kepada siswa dan berdampak pada karakter mereka.

Alhasil, ia menjadi anak yang takut ditolak. Namun ketika penolakan terjadi pada seorang siswa, ia dapat melukai dirinya sendiri akibat merasa tidak layak untuk hidup. Jadi sebelum itu terjadi guru harus mencegahnya terlebih dahulu.

3. Asosiasi tidak akan diarahkan

Kunci utama agar siswa berhasil dan berakhlak baik dimulai dari keluarga. Pendidikan orang tua sangat penting dalam membentuk perilaku dan pola pikir anak, kemudian pendidikan di sekolah juga sangat menentukan.

Namun jika orang tua atau guru sering berbicara kasar kepada anak, pasti mereka akan mencari kesenangan di luar rumah. Dengan demikian, ia akan masuk ke dalam perusahaan yang salah dan mendidiknya menjadi orang yang sulit diatur.

4. Pembinaan memiliki sifat pendendam

Ketika orang tua atau guru merasa ada anak yang tersakiti, ada baiknya segera meminta maaf. Tapi bukan dengan maksud memanjakan anak dan tetap menceritakan kesalahannya. Hal ini agar hubungan antara orang tua dan anak semakin baik dan tidak ada dendam.

Pasalnya, terkadang orang tua atau guru kesulitan meminta maaf dan menganggap semuanya baik-baik saja. Padahal sang anak sudah menyimpan dendam akibat sakit hati. Jika sudah menjadi kebiasaan, anak akan sulit memaafkan orang di sekitarnya.

5. Jadilah pendiam dan tertutup

Anak yang ternyata pendiam dan pendiam bisa jadi karena orang tua atau gurunya sering berbicara kasar kepada mereka. Hal ini justru membuat anak tidak dekat dengan orang tua atau gurunya dan merasa hidup sendiri. Dengan demikian, kita tidak bisa mendidik anak dengan baik. Sebelum hal ini berlanjut hingga ia dewasa, cari tahu akar permasalahannya dan cobalah untuk dekat dengan sang anak.

Semoga anak didik kita dapat terpelihara dengan baik dengan membentuk karakternya menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa, serta membahagiakan kedua orang tua dan guru.

www.trendguru.id

Comment
Share:

Ad