Inflasi Ijazah, Akar dari Penurunan Kualitas Pendidikan (Catatan Jalan Setapak Akar Rumput Civitas Akademi)

- Penulis

Jumat, 8 September 2023 - 22:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Inflasi Ijazah Akar dari Penurunan Kualitas Pendidikan Catatan Jalan Setapak

Inflasi Ijazah Akar dari Penurunan Kualitas Pendidikan Catatan Jalan Setapak

Wisuda daring

Setapak Rai Numbei (Dalan Inuk)10-15 tahun yang lalu, kita sering mendengar betapa kerennya orang-orang yang mempunyai gelar sarjana. Gelar sarjana dulunya dianggap sebagai jaminan masa depan seseorang cerah dan cerah.

Gelar sarjana seringkali menjadi modal bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan tertentu, yang tentunya dulunya merupakan posisi yang sangat diperebutkan. Hal ini juga berbanding lurus dengan sulitnya mendapatkan gelar sarjana dimana masyarakat harus belajar dan melalui berbagai tahapan hingga akhirnya lulus dan lulus.

Hal ini berbanding terbalik dengan masa kini, dimana gelar sarjana sudah menjadi hal yang lumrah dan tidak lagi menjadi nilai istimewa. Saat ini, khususnya di kota-kota besar, gelar sarjana merupakan sesuatu yang tidak lagi hanya bisa didapatkan oleh kalangan menengah ke atas. Gelar sarjana bagi warga kota merupakan hal lumrah yang bisa diraih banyak orang.

Pendidikan jenjang sarjana di Indonesia selama ini dinilai oleh banyak ahli kurang berkarakter dan cenderung berorientasi pada materi. Sejumlah fenomena pun terjadi yang pada akhirnya menimbulkan kemunduran pada pendidikan sarjana.

Era teknologi yang semakin berkembang juga turut berkontribusi terhadap fenomena tersebut. Pergeseran pemikiran dari berbagai aspek mulai dari sistem politik hingga pendidikan dan pandangan masyarakat terhadap lulusan semakin meluas.

Baca Juga :  Motif Ekonomi: Intrinsik dan Ekstrinsik

Fenomena tersebut antara lain inflasi ijazah, dimana banyak lulusan yang bekerja setara dengan keterampilan tingkat sekolah menengah atas (SMA), kualifikasi dan kompetensi tingkat sekolah menengah atas, upah setingkat sekolah menengah atas, dan beban kerja yang “hanya” setingkat kualifikasi pekerja lulusan sekolah menengah atas.

Fenomena inflasi ijazah ini juga didukung oleh pergeseran politik pendidikan yang kini cenderung dikomersialkan. Hal ini terlihat dimana perguruan tinggi cenderung membolehkan siapa saja menjadi lulusan tanpa adanya proses penyaringan yang jelas sejak awal. Artinya, banyak perguruan tinggi yang jika meluluskan seseorang, meski tanpa kemampuan akademik, hanya dengan membayar saja sudah pasti lulus.

Hal ini ditambah dengan pola pikir masyarakat Indonesia yang cenderung menganggap gelar adalah segalanya. Sehingga banyak orang tua yang berlomba-lomba menyekolahkan anaknya ke sekolah setinggi-tingginya tanpa memikirkan bahwa proses menjalani pendidikan tersebut memerlukan pengalaman dan praktek empiris yang cukup.

Hal ini tentu berdampak pada banyaknya pengangguran pada jenjang sarjana di Indonesia. Pengangguran ini dipicu karena mereka merasa malu karena tidak bekerja sesuai pendidikan dan gelarnya.

Baca Juga :  Gaji pokok PPPK untuk bulan Maret telah cair! Ini adalah nominal gaji pokok setelah diterbitkannya Peraturan Presiden terbaru.

Lebih lanjut, hal ini juga dapat berdampak pada lulusan magister (S2). Pasalnya, tidak sedikit lulusan sarjana yang menganggur lebih memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dengan dalih akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan dengan gelar magisternya.

Namun kenyataannya, setelah mereka lulus, akan semakin sulit mencari pekerjaan dengan gelar Master yang benar-benar memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar Master. Akibatnya, ketika lulusan S2 merasa takut untuk mendapatkan pekerjaan setingkat SMA atau S1, maka mereka akan mengejar pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi S2, misalnya menjadi dosen.

Bagi lulusan Magister yang hanya menekuni pekerjaan berdasarkan gengsi tanpa memikirkan kemampuannya atau tidak, tentu akan memilih bahwa menjadi dosen adalah yang terbaik. Bahkan mereka lupa bahwa menjadi dosen berarti rela memikul beban kerja dosen yang sangat berat yaitu mendidik mahasiswa.

Sekarang, silahkan para pembaca pikirkan apa jadinya jika seorang lulusan Magister yang sebenarnya tidak memiliki kompetensi Magister menjadi staf pengajar di suatu universitas? Tentu saja pikiran akan mengarah pada hal-hal negatif. ***


Baca juga

Berita Terkait

Contoh Doa Penutup MPLS 2024 Dalam Bahasa Indonesia
Contoh Materi MPLS SMP Kurikulum Merdeka Tahun Anggaran 2024/2025
Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional di Kelas dan Sekolah
Contoh Modul Ajar Kurikulum Merdeka PAUD-TK Terbaru 2024
6 Daftar Kegiatan Ketika MPLS Bersama Peserta Didik Baru, Jangan Sampai Terlewatkan !
Ada Perlakuan Khusus untuk PPPK 2024, Semua Guru Akan Diberi Tunjangan Lebih Hingga 3 Juta
Alhamdulillah!! Tenaga Honorer Yang Mengabdi Lebih dari 20 Tahun Akan Langsung Ditetapkan NIP Pegawai
Urutan Prosedur Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan adalah
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juli 2024 - 21:32 WIB

Contoh Doa Penutup MPLS 2024 Dalam Bahasa Indonesia

Sabtu, 6 Juli 2024 - 11:26 WIB

Contoh Materi MPLS SMP Kurikulum Merdeka Tahun Anggaran 2024/2025

Senin, 1 Juli 2024 - 16:57 WIB

Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional di Kelas dan Sekolah

Sabtu, 29 Juni 2024 - 16:30 WIB

Contoh Modul Ajar Kurikulum Merdeka PAUD-TK Terbaru 2024

Kamis, 27 Juni 2024 - 18:28 WIB

6 Daftar Kegiatan Ketika MPLS Bersama Peserta Didik Baru, Jangan Sampai Terlewatkan !

Berita Terbaru

Viral

Isna Amsikan Viral 2 Jari, Ini Link Video Viral MP4 nya

Selasa, 16 Jul 2024 - 17:19 WIB