Inovasi Pendidikan Lewat Revitalisasi Bahasa Daerah (Catatan Jelajah Akar Rumput)

- Penulis

Kamis, 5 Oktober 2023 - 10:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Inovasi Pendidikan Lewat Revitalisasi Bahasa Daerah Catatan Jelajah Akar Rumput

Inovasi Pendidikan Lewat Revitalisasi Bahasa Daerah Catatan Jelajah Akar Rumput

Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengkategorikan status bahasa daerah Indonesia menjadi aman, rentan, menurun, terancam punah, kritis, dan punah. Dalam hal ini, pada tahun 2018 tercatat 19 bahasa daerah dalam kondisi aman, 16 bahasa daerah dalam kondisi rentan, 2 bahasa daerah mengalami kemunduran, 22 bahasa daerah terancam punah. , 4 bahasa daerah dalam kondisi kritis, dan 11 bahasa daerah mengalami kepunahan.

Punahnya bahasa daerah merupakan permasalahan nasional yang perlu ditangani secara serius. Alasan mendasar mengapa bahasa daerah harus dipertahankan adalah: Pertama, keberadaan bahasa daerah erat kaitannya dengan kehidupan dan budaya daerah. Kehilangan bahasa daerah sama saja dengan kehilangan kebudayaan daerah. Kehilangan keduanya berarti matinya identitas daerah.

Kedua, bahasa daerah merupakan kekayaan masyarakat dan aset bangsa. Ketiga, bahasa daerah merupakan gambaran luhur masyarakat yang mencerminkan nilai-nilai kearifan budaya masyarakat penuturnya. Bahasa daerah merupakan sarana komunikasi untuk transfer ilmu pengetahuan. Kebudayaan suatu daerah yang bahasa daerahnya sudah punah akan cenderung sulit untuk dipulihkan.

Faktor alam yang menyebabkan punahnya bahasa daerah dapat berupa bencana alam, pengaruh bahasa mayoritas, masyarakat bahasa bilingual atau multibahasa, pengaruh globalisasi, migrasi, perkawinan antar suku (intermarriage). Selain itu, kepunahan bahasa daerah juga terjadi secara tidak wajar akibat kurangnya apresiasi terhadap bahasa daerah, kurangnya intensitas penggunaan bahasa daerah, pengaruh faktor ekonomi, dan pengaruh lingkungan hidup. penggunaan bahasa Indonesia.

Selain faktor-faktor yang disebutkan di atas, masih ada faktor lain yang sangat mempengaruhi punahnya bahasa daerah. Faktor tersebut adalah terjadinya politik bahasa dalam skala nasional maupun internasional. Mari kita coba menilik sejarah perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan implikasinya terhadap bahasa daerah.

Secara historis, penetapan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional sebenarnya terjadi bukan atas dasar desakan etnosentris dalam mempertimbangkan suku mana yang lebih besar atau lebih kecil. Dahulu bahasa Melayu digunakan secara luas sebagai media perdagangan antar suku, sebagai bahasa dakwah, dan banyak karya sastra yang ditulis dalam bahasa tersebut.

Sejak dahulu kala, bahasa Melayu telah menjadi lingua franca masyarakat Indonesia. Atas dasar itulah dipilihnya bahasa Melayu berdasarkan sikap saling menerima dari masing-masing jong (yang mengumandangkan sumpah pemuda) karena sama-sama menyadari bahwa bahasa Melayu memiliki cakupan yang cukup luas dan mampu mempersatukan suku-suku yang sangat besar.

Sejak Sumpah Pemuda dikeluarkan, bahasa Melayu telah menjadi bahasa nasional bangsa Indonesia. Meski begitu, pada awalnya bahasa Indonesia masih melindungi bahasa daerah lainnya. Namun sangat disayangkan pada periode-periode berikutnya, bahasa Indonesia lambat laun melahap bahasa daerah.

Baca Juga :  Contoh Proposal Kegiatan, Penelitian, Pengajuan Dana, Usaha

Hal ini dapat ditelusuri dari pesatnya perkembangan zaman Orde Baru yang menggantikan semangat kerakyatan masyarakat daerah dengan semangat pembangunan nasional yang terpusat dan elitis. Sistem perekonomian nasional telah berubah dari yang anti modal asing menjadi pro asing.

Perekonomian menjadi pusat perhatian pembangunan tanpa melihat dampak buruknya terhadap nilai-nilai daerah yang sangat kaya. Slogan-slogan tentang melestarikan budaya daerah kerap dilontarkan, namun saat ini cara pandang masyarakat terhadap budaya daerah berbeda. Kebudayaan daerah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang hidup atau layak untuk dijalani saat ini. Kebudayaan daerah justru dipandang sebagai artefak yang sudah lama ditinggalkan dan ada baiknya kita menggali, mencari, membingkainya dan sesekali mengunjunginya di museum. Kebudayaan daerah tidak lagi menyatu dalam kehidupan masyarakat, melainkan benar-benar terpisah.

Secara sederhana sebenarnya bisa dikatakan bahwa bahasa daerah mati dan punah bukan karena tidak lagi mempunyai kata-kata untuk memaknai kehidupan, melainkan karena bahasa tersebut sudah jarang atau bahkan tidak lagi digunakan. Bahasa lisan itu ada, yang tidak ada adalah orang yang mengucapkannya. Hal ini dikarenakan masyarakat penuturnya lebih sering berbicara bahasa lain. Pendidikan merupakan sektor yang juga perlu mendapat sorotan dalam hal ini.

Kita bisa meminjam sudut pandang Pierre Bourdieu untuk menjelaskan gejala mengapa masyarakat kita secara perlahan mulai meninggalkan bahasa daerahnya. Pada dasarnya Bourdieu melihat mengapa suatu bahasa bisa dilegitimasi dan perlahan mendominasi bahasa lain karena adanya nilai khas dalam praktik berbahasa masyarakat ketika membangun hubungan sosial. Dalam praktik bahasa, kita memproduksi dan mempersepsikan produk linguistik untuk membangun hubungan sosial.

Disadari atau tidak, secara tidak langsung dalam proses ini produk kebahasaan yang digunakan dikategorikan secara sosial. Singkatnya, hal ini menimbulkan persepsi di masyarakat bahwa ada bahasa yang dipandang (secara simbolis) sebagai bahasa yang lebih populer, keren, mencerminkan intelektual dan sebagainya. Hal inilah yang membuat penutur bahasa daerah lebih memilih menggunakan bahasa lain yang dirasa lebih mempunyai gengsi.

Bourdieu juga menyoroti implikasi penggunaan bahasa resmi (nasional) dalam ranah pendidikan dan implikasinya terhadap bahasa komunal (daerah). Melihat hal tersebut, Bourdieu merasa ada sekelompok orang yang kompetensi linguistiknya didominasi dan kepentingannya tidak lain adalah memenangkan “pasar”.

Baca Juga :  Pengertian Listrik Dinamis dengan Sifat dan Contohnya

Orang tua di rumah akan memaksa anaknya fasih berbahasa nasional bahkan asing untuk meningkatkan nilainya di pasar sekolah. Tanpa disadari, hal ini bukan hanya sekedar penguasaan bahasa saja, namun juga berkaitan dengan rusaknya ekspresi kebahasaan dan perubahan kesadaran sekelompok masyarakat. Karena bahasa erat kaitannya dengan cara manusia menafsirkan dunia dan mengekspresikan dirinya.

Lalu, apa solusi dari permasalahan tersebut? Kita berharap ada pelestarian dan penguatan bahasa daerah secara serius. Bukan sekadar jargon seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Pertama, kesadaran individu dan komunal penutur bahasa daerah sangat diperlukan. Mereka perlu diyakinkan bahwa bahasa daerahnya sangat penting untuk terus dilestarikan, mengingat begitu banyak kekayaan yang terkandung di dalamnya.

Kedua, secara politis, pemerintah harus benar-benar serius menyikapi punahnya bahasa daerah dan melakukan upaya untuk mendukung dan memajukan potensi daerah secara maksimal. Apalagi saat ini adanya ancaman budaya asing semakin menimbulkan gejala linguistik xenomania (ketertarikan berlebihan terhadap bahasa asing) di masyarakat.

Inisiatif pemerintah yang menyikapi kepunahan bahasa daerah secara serius patut kita apresiasi dengan program revitalisasi bahasa daerah. Program revitalisasi bahasa daerah merupakan paket kebijakan yang dikemas dalam Merdeka Belajar Episode 17 yang diluncurkan pada 22 Februari 2022.

Tujuan dari program ini adalah: Pertama, menjadikan generasi muda penutur aktif bahasa daerah dan belajar bahasa daerah dengan gembira melalui media yang mereka sukai. Kedua, menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra daerah. Ketiga, menciptakan ruang kreativitas dan kemandirian bagi penutur bahasa daerah untuk mempertahankan bahasanya, dan keempat, menemukan fungsi dan rumah baru bagi bahasa dan sastra daerah.

Sebagai sektor penting, dunia pendidikan perlu banyak melakukan inovasi untuk melestarikan bahasa daerah. Saya soroti saat ini kegiatan kebudayaan mulai dikembangkan di sekolah-sekolah. Di mana, pemilihan satu hari dalam satu minggu sekolah memfasilitasi siswa untuk berkreasi dalam mengekspresikan berbagai seni.

Alangkah baiknya jika hal ini dimanfaatkan oleh pihak sekolah untuk membuat kebijakan bahwa pada hari ini siswa diwajibkan saling menyapa di lingkungan sekolah dengan menggunakan bahasa daerah. Banyak sekolah atau pesantren yang membuat kebijakan menggunakan bahasa asing ketika bersosialisasi di lingkungan sekolah atau pesantrennya. Saya kira saat ini perlu ada fokus sekolah untuk membuat program serupa guna melestarikan bahasa dan sastra daerah.

Berita Terkait

Untuk Jenjang SMA Tahun Depan 2024/2025 Sudah tidak Ada Lagi Penjurusan, Ini Kebijakan Baru Dari Nadiem makarim
Pasti dari Jokowi, Tahun Depan tidak Ada Perbedaan Antara PNS dan PPPK, Semua Akan Satu Nama Menjadi ASN
Contoh Doa Penutup MPLS 2024 Dalam Bahasa Indonesia
Contoh Materi MPLS SMP Kurikulum Merdeka Tahun Anggaran 2024/2025
Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional di Kelas dan Sekolah
Contoh Modul Ajar Kurikulum Merdeka PAUD-TK Terbaru 2024
6 Daftar Kegiatan Ketika MPLS Bersama Peserta Didik Baru, Jangan Sampai Terlewatkan !
Ada Perlakuan Khusus untuk PPPK 2024, Semua Guru Akan Diberi Tunjangan Lebih Hingga 3 Juta
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juli 2024 - 10:33 WIB

Untuk Jenjang SMA Tahun Depan 2024/2025 Sudah tidak Ada Lagi Penjurusan, Ini Kebijakan Baru Dari Nadiem makarim

Jumat, 19 Juli 2024 - 10:42 WIB

Pasti dari Jokowi, Tahun Depan tidak Ada Perbedaan Antara PNS dan PPPK, Semua Akan Satu Nama Menjadi ASN

Jumat, 12 Juli 2024 - 21:32 WIB

Contoh Doa Penutup MPLS 2024 Dalam Bahasa Indonesia

Sabtu, 6 Juli 2024 - 11:26 WIB

Contoh Materi MPLS SMP Kurikulum Merdeka Tahun Anggaran 2024/2025

Senin, 1 Juli 2024 - 16:57 WIB

Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional di Kelas dan Sekolah

Berita Terbaru