PusatDapodik
Home Berita Jumlah Insinyur di Indonesia Belum Ideal dan Masih Sangat Sedikit

Jumlah Insinyur di Indonesia Belum Ideal dan Masih Sangat Sedikit

Jumlah Insinyur di Indonesia Belum Ideal dan Masih Sangat Sedikit

YOGYAKARTA, pusatdapodik.com-Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mencatat terdapat sekitar 2.671 insinyur per 1 juta penduduk di Indonesia. Angka tersebut masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan Vietnam yang memiliki 9 ribu insinyur per 1 juta penduduk dan Korea Selatan yang memiliki 25 ribu insinyur per 1 juta penduduk. Jumlah insinyur di Indonesia tentu dinilai sangat sedikit, bahkan jauh dari kata ideal.

“Kalau kita bandingkan dengan negara lain, angka kita sangat kecil, bahkan jika dibandingkan dengan negara tetangga,” kata Prof Ir. Asep Kurnia Permadi, M.Sc., Ph.4.

Hal tersebut juga disinggung Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin pada kongres Persatuan Insinyur Indonesia (PII) tahun 2021 yang mengatakan bahwa jumlah insinyur Indonesia masih sangat sedikit. Jika dihitung, Indonesia masih membutuhkan 300 ribu insinyur, bahkan dalam konteks tertentu Indonesia masih membutuhkan 1 juta insinyur.

“Jadi kalau melihat angka di atas, Indonesia perlu menambah jumlah insinyur. Salah satu cara untuk meningkatkan jumlah insinyur di Indonesia adalah dengan mendorong lebih banyak lulusan teknik untuk mengikuti Program Studi Profesi Insinyur (PSPII).” Saat ini terdapat sekitar 49 perguruan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan PSPII, namun secara kumulatif jumlah lulusannya masih jauh dari kebutuhan yang ada,” jelas Asep.

Tantangan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab PII sebagai penyelenggara PSPII saja, namun juga melibatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjadi insinyur yang profesional.

“Kita harus menggalakkan dan mensosialisasikan pembelajaran kepada masyarakat bahwa untuk menjadi insinyur harus menjadi insinyur yang profesional dan itu dimulai dengan mengikuti program profesi ini,” jelasnya di hadapan 20 insinyur yang dikukuhkan dalam sumpah profesi insinyur. di UMY hari ini.

Lebih lanjut Asep mengatakan, insinyur Indonesia menghadapi tantangan global yang relatif berat. “Apalagi status kita sebagai negara yang belum bisa mandiri seperti negara maju lainnya. Kita masih banyak bergantung terutama di bidang teknologi kepada negara lain. Untuk itu kita harus menghadapinya dengan kompetensi dan karakter profesional sebagaimana tertuang dalam undang-undang. ,” tambah Asep.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UMY, Prof.Dr.Ir. Sukamta, ST, MT, IPM menyampaikan saat ini Indonesia berada di era generasi insinyur 5.0, dimana manusia menjadi pusat dari segala teknologi. Maka manusia perlu menempatkan dirinya pada posisi tengah untuk menguasai segala teknologi, agar teknologi menjadi ramah terhadap manusia.

“Bukan manusia yang dikuasai berbagai teknologi, melainkan teknologi yang dikuasai para insinyur untuk kepentingan umat dan bangsa,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam mewujudkan lulusannya yang kompeten dan profesional di bidang teknik, sehingga jumlah insinyur Indonesia dapat meningkat secara signifikan.

“Karena kita tahu, seluruh pekerjaan infrastruktur sebagian besar ditangani oleh para insinyur. Jika para insinyurnya kompeten, maka pembangunan infrastruktur, baik sipil, militer, maupun pabrik, akan terlaksana dengan baik. Memenuhi standar mutu dan hal ini tentunya akan memberikan nilai tambah bagi pabrik atau lembaga itu sendiri dan pada akhirnya akan memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa Indonesia. “Sehingga para insinyur kita tidak hanya dikenal di tingkat Asia tapi juga dunia,” pungkas Sukamta. (St)

www.cakrawala.co

Comment
Share:

Ad