PusatDapodik
Home Dapodik Informasi Dapodik Nasib Penasihat Agama di Gorontalo Puluhan Tahun Melayani, Khawatir Tidak Jadi ASN

Nasib Penasihat Agama di Gorontalo Puluhan Tahun Melayani, Khawatir Tidak Jadi ASN

098325000 1663123580 honorer

Liputan6.com, Gorontalo – Isu pengangkatan Aparatur Sipil Negara (ASN) masih berdengung. Apalagi bagi para pekerja honorer yang telah mengabdi puluhan hingga puluhan tahun.

Saat ini, mereka khawatir dengan pendataan yang dilakukan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN). Pasalnya, setelah pendataan dilakukan, banyak data tenaga honorer yang masuk ke BKN.

Berdasarkan data yang diterima, BKN per 30 September 2022, ada sekitar dua juta pekerja kontrak yang telah mengisi data di aplikasi BKN.

Berdasarkan data tersebut, tenaga honorer yang sudah lama menjabat mengaku kaget dengan jumlah tersebut. Menurut mereka, jika ada kesempatan menjadi ASN atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Kami kaget, ternyata tenaga honorer di Indonesia banyak sekali. Kami kira, harapan kami sangat tipis untuk menjadi PNS jika tenaga honorer banyak sekali,” kata Rina yang enggan memberikan keterangan penuh. nama untuk Liputan6.comRabu (10/5/2022).

Apalagi, kata Rina, saat ini banyak tenaga honorer yang baru menjabat selama satu tahun sudah mendaftar. Tentu hal ini akan menambah jumlah tenaga honorer.

“Begitu ya, meski baru satu sampai dua tahun, honorarium sudah tercatat. Itu yang membuat datanya jadi kewalahan,” ujarnya.

Di tempat berbeda, Jufri, salah satu ustadz di Kementerian Agama Gorontalo, mengaku saat ini sedang khawatir. Mereka khawatir nasib mereka akan kalah dengan honorer baru.

“Kami sudah belasan tahun menjadi ustadz honorer, jelas kami juga sudah tua. Padahal kebanyakan dari kami sudah lama menjadi honorer, kami masih belum paham betul tentang teknologi,” kata Jufri.

“Benarkah tenaga honorer kita yang sudah belasan tahun ini bisa disalip oleh honorer baru yang paham teknologi,” ujarnya.

Mereka meminta instansi yang berwenang dalam penunjukan ASN dan PPPK untuk mempertimbangkan lama kerja. Jadikan masa kerja sebagai indikator BKN untuk menyelamatkan tenaga honorer yang sudah lama mengabdi.

“Memang kami tidak paham teknologi, tapi kami paham tugas utama kami sebagai penyuluh agama sementara,” ujarnya.

Ikhlas, Bupati Banyumas mohon maaf atas usulan WFH ASN karena ada varian India di Cilacap

Comment
Share:

Ad