Ciri-Ciri dan Klasifikasi Platyhelminthes (Cacing Pipih) Terlengkap

- Penulis

Sabtu, 10 Februari 2024 - 00:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

cacing pipih

cacing pipih

Pada postingan tentang Invertebrata disebutkan bahwa hewan yang termasuk dalam kelompok Invertebrata antara lain Porifera (hewan berpori), Cnidaria (hewan penyengat), Platyhelminthes (cacing pipih), Nemathelminthes (cacing benang), Annelida (cacing gelang), Mollusca (cacing lunak). hewan berbadan), Arthropoda (hewan yang kakinya bersendi), dan Echinodermata (hewan berkulit duri).

Setelah kita bahas tuntas tentang Porifera (hewan berpori) dan Cnidaria (hewan penyengat). Kali ini kita akan membahas Platyhelminthes (cacing pipih).

cacing pipih

Platyhelminthes (Cacing Pipih)

Ciri-ciri Umum Platyhelminthes

Platyhelminthes (cacing pipih) merupakan aselomata triploblastik. Ciri-ciri umum Platyhelminthes adalah hidup bebas di air tawar dan tempat lembab, ada juga yang hidup sebagai parasit, tubuhnya tidak bersegmen, sistem pencernaan makanannya tidak sempurna, buang air besarnya menggunakan sel api, mempunyai tali. sistem saraf tangga, mempunyai mata, berkembang biak secara seksual dan aseksual, mempunyai daya regenerasi tinggi, dan merupakan organisme hermafrodit.

Klasifikasi Platyhelminthes

Platyhelminthes dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Turbellaria, Trematoda, dan Cestoda.

Kelas Turbelaria
Turbellaria sering disebut cacing berambut getar. Ciri-ciri cacing berbulu getar antara lain panjang tubuh 5-25 cm dengan bintik mata terletak di bagian punggung kepala. Mulut terletak di ujung kerongkongan dan dapat diperpanjang untuk menangkap makanan. Cacing dewasa mempunyai pori genital di bagian belakang mulut. Epidermis tersusun atas sel-sel kubik, di antaranya terdapat sel kelenjar. Epidermis ventral mempunyai silia sebagai alat gerak. Pada bagian bawah epidermis terdapat sel-sel formatif yang berfungsi membentuk bagian tubuh baru jika ada organ tubuh yang terputus (daya regenerasi besar).

Sistem saraf terdiri dari dua ganglia. Pada kepala di bawah mata terdapat dua ganglia otak yang terhubung dengan mata yang peka terhadap cahaya. Gerakan meluncur dilakukan dengan mengontraksikan otot-otot yang memanjang untuk menarik tubuh bagian belakang.

Perbanyakan vegetatif dilakukan dengan pembelahan melintang atau membujur. Lebih-lebih lagi. setiap bagian tubuh beregenerasi untuk membentuk individu baru yang lengkap. Planaria bereproduksi secara seksual dengan menempelkan dua planaria satu sama lain di bagian perut dan kemudian bersanggama.

Baca Juga :  Derivatif sebagai Instrumen Pasar Modal

Planaria (Dugesia tigrina) hidup bebas di air tawar sebagai konsumen. Hewan ini juga hidup di bawah daun tumbuhan air dan di bebatuan sebagai organisme saprofit. Hewan ini merupakan organisme hermafrodit. Kelenjar seks berguna untuk membuat, menyimpan dan menggerakkan sel-sel kelamin. Planaria selalu menghindari cahaya dan dalam kegelapan akan aktif merayap.

Limnostylochus bornencis hidup di laut dan banyak ditemukan di perairan laut sekitar Kalimantan. Tubuhnya memiliki usus yang bercabang. Alaurina couposita hidup di laut, mempunyai usus sederhana dan lurus, mulut di ujung anterior, ditemukan di Atlantik Utara.

Kelas Trematoda
Trematoda (cacing penghisap) hidup sebagai parasit (ektoparasit atau endoparasit) pada hewan dan manusia. Disebut cacing penghisap karena pada bagian ventral tubuhnya terdapat dua buah pengisap yang dilengkapi alat pelengkap. Makanannya terdiri dari jaringan hewan atau cairan tubuh. Trematoda mempunyai organ indra berupa bintik mata yang terletak di bagian punggung pada tahap larva dan sedikit ke anterior pada tahap dewasa. Organ pencernaan terdiri dari mulut, faring berotot, kerongkongan pendek, dan usus pendek bercabang dua. Alat ekskresinya adalah sel api. Sistem saraf merupakan sistem saraf tangga tali yang tersusun atas ganglia ganda di dekat kerongkongan, dua saraf punggung (punggung), dan berbagai macam serabut saraf.

Contoh anggota Trematoda adalah cacing hati (Fasciola hepatica) yang hidup sebagai parasit pada hati kambing, domba dan sapi. Cacing hati mempunyai tubuh yang pipih dan panjang sekitar 30 mm. Pengisapnya ada di tengah. Sapi atau kambing yang terinfeksi cacing hati tidak langsung mati dan dapat menulari sapi atau kambing lain yang sehat. Dalam siklus hidupnya, cacing hati mengalami metagenesis.

Clonorchis sinensis dan Ophiosthorchis adalah contoh trematoda parasit di hati manusia dengan inang perantara: siput dan ikan. Schitostonia japonicum dan Fasciolopis buski merupakan trematoda yang menyebabkan penyakit pada manusia, babi dan anjing. Paragonismus westermanni menyerang paru-paru kucing, babi, kambing dan mamalia lainnya. Schistostoma hematobium menyerang darah manusia. Infeksi terjadi melalui kulit dan air minum.

Baca Juga :  Kunci Jawaban SOAL PKN Kelas 10 SMA SMK MA Halaman 69 Wujud Warga Negara yang Memiliki Kesadaran Bela Negara

Kelas Cestoda

Cestoda sering dikenal sebagai cacing pita. Tubuh cacing pita bersegmen dan tidak bersilia, melainkan permukaan taenia soliumtubuh ditutupi dengan kutikula. Tubuh cestoda terdiri dari kepala yang disebut skoleks dan segmen tubuh yang disebut proglotid. Segmen tubuh terus terbentuk, terutama di bagian leher. Pada skoleks terdapat empat organ pengisap yang disebut rostellum dengan kait yang tersusun dari kitin.

Cestoda hidup sebagai parasit di saluran pencernaan manusia, karena tidak mempunyai mulut dan saluran pencernaan. Makanan diambil dari inang dengan cara diserap melalui seluruh permukaan tubuh.

Dalam siklus hidupnya, Cestoda mengalami metagenesis. Larva Cestoda disebut hexacans atau oncospheres. Cacing dewasa terdapat di rongga usus hewan vertebrata, sedangkan larva terdapat di sela-sela sel jaringan.

Reproduksi terjadi secara seksual. Pembuahan terjadi pada satu proglotid. Proses pembuahan diawali dengan bersatunya sel garnet dari dua proglotid berbeda yang akan menjadi ootid. Setelah matang. Sel telur pada proglotid akan dikeluarkan bersama feses dan berkembang menjadi larva onkosfer. Larva yang dimakan babi atau sapi tidak akan tercerna dan akan menembus dinding usus, kemudian masuk ke pembuluh darah dan getah bening dan menetap di otot sebagai kista yang akan membesar menjadi sistiserkus.

Contoh cacing pita antara lain Taenia saginata: inang tetapnya adalah manusia, inang perantaranya adalah sapi; Taenia solium: inang tetap adalah manusia, inang perantara adalah babi; Echinococcus granulosus: inang permanen adalah manusia, inang perantara adalah anjing; Diphyllobothrium latum: parasit pada manusia. melalui ikan air tawar.

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan mengenai Ciri-ciri dan Klasifikasi Platyhelminthes (Cacing Pipih) Terlengkap.. Semoga postingan ini bermanfaat bagi pembaca dan dapat dijadikan sumber literatur dalam mengerjakan tugas. Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

Berita Terkait

Bagaimana Cara Membuat Media Pembelajaran Interaktif? Begini Penjelasannya
Bagaimana Pembelajaran Yang Sesuai Dengan Tahap Perkembangan Siswa SD Menurut Piaget?
Materi Bahasa Inggris Kelas 9 Semester 1 Kurikulum Merdeka
Materi Bahasa Inggris Kelas 9 Semester 1 Kurikulum Merdeka
Dalam Rantai Makanan Tumbuhan Hijau Berfungsi Sebagai…..
Contoh Soal IPA Kelas 8 SMP MTs Kurikulum Merdeka Bab 2 Struktur dan Fungsi Tubuh Makhluk Hidup
Materi Biologi Kelas 11 Kurikulum Merdeka Lengkap
20 Soal Matematika Kelas 4 Semester 2 Kurikulum Merdeka
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juli 2024 - 21:23 WIB

Bagaimana Cara Membuat Media Pembelajaran Interaktif? Begini Penjelasannya

Sabtu, 6 Juli 2024 - 17:04 WIB

Bagaimana Pembelajaran Yang Sesuai Dengan Tahap Perkembangan Siswa SD Menurut Piaget?

Kamis, 27 Juni 2024 - 11:03 WIB

Materi Bahasa Inggris Kelas 9 Semester 1 Kurikulum Merdeka

Rabu, 26 Juni 2024 - 20:15 WIB

Materi Bahasa Inggris Kelas 9 Semester 1 Kurikulum Merdeka

Senin, 24 Juni 2024 - 16:11 WIB

Dalam Rantai Makanan Tumbuhan Hijau Berfungsi Sebagai…..

Berita Terbaru