Mengatur Emosi Dalam dunia pendidikan, mudah sekali terjadi perkelahian antar siswa. Ini sudah menjadi biasa.

Apalagi di era kebijakan pendidikan yang sudah berubah menjadi Pembelajaran Tatap Muka (PTM), seorang guru pasti sudah tidak asing lagi dengan fenomena ini. Kemarahan siswa memiliki tingkatan yang berbeda-beda.

Ada yang marah ketika diejek atau dibully dan akhirnya marah karena temannya minta maaf. Namun fenomena lain, ada siswa yang mulai marah hingga adu fisik tidak bisa dicegah.

Mulai dari adu fisik, biasanya menyebabkan kedua siswa tersebut terluka bahkan berujung pada kematian. Nah, sadis bukan? Oleh karena itu, sebagai seorang guru, selain mendidik Anda juga berkesempatan untuk menjadi psikolog pribadi bagi siswa khususnya dalam hal pendidikan. mengatur emosi.

Arti Emosi

Sebelum mempelajari lebih lanjut tentang cara mengatur emosi, sebaiknya pahami dulu definisi sederhana dari emosi. Emosi adalah perasaan yang ada dalam diri individu. Ini memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari.

Emosi itu sendiri terdiri dari berbagai bentuk, seperti perasaan senang, bahagia, sedih dan marah, yang merupakan bentuk-bentuk emosi.

Secara psikologis, emosi dapat diartikan sebagai respon yang diberikan otak secara instan. Manusia pada dasarnya tidak bisa memilih emosi yang mereka rasakan. Namun, perwujudan emosi akan bersifat destruktif atau destruktif jika emosi tersebut diungkapkan dengan cara yang tidak cermat dan tepat.

Sebagai contoh, seorang siswa wajar merasa sedih ketika mendapat nilai buruk meskipun ia telah berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan nilai terbaik. Namun, ketika kesedihannya berubah menjadi perasaan ingin marah kepada guru karena nilainya yang buruk, tentu saja ini salah dan tidak bisa dibenarkan.

Hanya saja, dewasa ini, makna emosi lebih cenderung diistilahkan untuk seseorang yang mengalami peningkatan persentase tingkat kemarahannya.

Itu namanya emosi sekarang. Seperti yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari, kadang-kadang seseorang akan melibatkan kemarahan dalam menyelesaikan masalah, karena mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang paling benar.

Perilaku seperti ini sering terlihat pada orang dewasa karena mereka juga memiliki kedewasaan berpikir.

Namun, perilaku negatif tersebut telah menjadi contoh bagi generasi muda, termasuk generasi di negeri ini. Bahkan di banyak siaran, media sosial dan berita cetak, generasi sudah mulai memainkan peran utama sebagai aktor utama yang menggunakan kemarahan.

Misalnya tawuran antar siswa dari sekolah yang berbeda, bahkan ada tawuran yang terjadi karena memperebutkan belahan jiwa? Padahal, kalau dipikir-pikir, mereka masih remaja. Mereka adalah penguasa bangsa.

Kemarahan yang meledak, bahkan sampai mengundang kerusakan di sekitar siswa yang marah akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi diri sendiri, orang tua, guru dan lingkungan tempat mereka berinteraksi.

Melansir dari beberapa pakar psikologi, kemarahan yang meledak-ledak harus menjadi perhatian khusus agar kedepannya tidak menimbulkan kerugian yang berarti. Jika yang mudah marah adalah anak-anak di usia TK, mungkin amarahnya masih tergolong marah biasa dan terlihat lucu.

Namun jika sudah terbiasa, maka kebiasaan tersebut akan bertahan hingga akhirnya mereka menjadi dewasa seperti sekarang.

Strategi Pengendalian Kemarahan

Sebagai seorang guru yang berkompeten, meskipun bidang Anda bukan psikologi, mau tidak mau Anda dituntut untuk memahami psikologi dasar perkembangan anak pada usia yang Anda ajar untuk menentukan strategi penyelesaiannya. Misalnya terkait strategi dalam mengendalikan amarah.

Guru harus berusaha memahami terlebih dahulu kepada siswa arti dari emosinya sendiri disertai dengan penjelasan tentang marah. Kemudian mengajarkan dan membina siswa untuk dapat mengontrol emosi termasuk amarah yang dimiliki siswa. Strategi untuk mengendalikan kemarahan meliputi:

1. Memilih dan Menyortir Situasi

Strategi pertama yang dapat dilakukan siswa adalah mencoba aktivitas memilih dan memilah situasi. Biasanya, seseorang marah karena dipecat atau terjerat masalah yang sangat mengganggu.

Dengan demikian, siswa merasa harus marah sebagai bentuk pembelaan diri. Oleh karena itu, guru perlu menanamkan dalam diri siswa agar dapat menempatkan diri dan menahan gejolak amarah yang ada di dalam jiwa.

Pada awalnya, praktiknya tentu sangat sulit. Karena tidak semua siswa bisa melakukannya. Memahami siswa agar cerdas dan bijak dalam memilih situasi saat marah.

2. Membangun Kemandirian Siswa

Strategi lainnya adalah guru harus belajar untuk dapat mengajar siswa memiliki kemandirian dan rasa tanggung jawab. Kedua karakter ini erat kaitannya dengan pengendalian amarah dalam jiwa mereka.

Misalnya, mengajar siswa dengan memberikan studi kasus terkait peningkatan sikap mandiri dan bertanggung jawab. Selain itu, guru juga dapat mengajak siswa untuk melihat berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh kemarahan yang berlebihan.

3. Guru Mengajarkan Siswa untuk Mengalihkan Fokus

Kemudian, strategi lain, guru mengajarkan siswa untuk belajar mengalihkan fokus pada hal-hal yang menyebabkan kemarahan memuncak. Salah satu fenomena siswa yang sering mengalami kemarahan dapat terjadi karena merasa temannya lebih unggul dari dirinya sendiri.

Sehingga membuat siswa marah bahkan ingin menyerang temannya. Kemudian guru dapat mengajarkan siswa untuk mengalihkan fokus perhatian dari yang awalnya iri dan marah karena kesenangan yang dimiliki teman-temannya untuk fokus meningkatkan dan meningkatkan potensi diri.

Di era kecanggihan teknologi saat ini, sangat penting bagi siswa untuk menggali segala potensi melalui kemudahan akses teknologi. Misalnya dengan membuka website, atau mencoba peruntungan membuat konten video inspiratif. Bisa juga digenggam bersama, agar hati terasa lebih tenang.

Anda juga dapat merekomendasikan siswa untuk membaca buku sebagai selingan. Selain itu, membaca buku akan membuat mereka memiliki wawasan baru dan luas. Itu jauh lebih baik, bukan?

4. Guru Mengajar Siswa Memahami Konsep Mindfulness

Salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan mengajarkan konsep mindfulness. Mindfulness adalah upaya atau perawatan di mana seseorang dapat melatih fokusnya pada lingkungan dan emosinya.

Tujuannya, agar siswa dapat menerima keadaan dan pengalaman yang menimpanya. Selain itu, konsep ini akan menumbuhkan siswa menjadi seseorang yang dapat mengubah ketegaran hati dan perasaan yang dimilikinya terhadap teman-temannya.

Demikian ulasan tentang strategi mengatur emosi agar guru dan siswa dapat melaksanakan pembelajaran secara optimal.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota e-Guru.id dan dapatkan pelatihan gratis setiap bulannya untuk meningkatkan kompetensi Anda sebagai pendidik. Untuk melakukan ini, klik tautan ini atau poster berikut untuk menjadi anggota e-Guru.id!

(shd/shd)

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *