PusatDapodik
Home oot Sistem Among Taman Siswa: Peran Guru dalam Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kemandirian

Sistem Among Taman Siswa: Peran Guru dalam Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kemandirian

Perguruan Taman Siswa, yang didirikan Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta, lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda yang kaku, otoriter, dan tidak berpihak pada kodrat alam anak bangsa. Di tengah pendidikan masa itu yang lebih menekankan hafalan dan paksaan, Ki Hajar Dewantara memperkenalkan Sistem Among sebagai filosofi pendidikan yang humanis dan berbasis budaya Indonesia. Kata “Among” berasal dari bahasa Jawa “mong” atau “momong” yang berarti mengasuh, membimbing, atau mendidik dengan penuh kasih sayang. Dalam sistem ini, guru tidak lagi disebut sebagai pengajar biasa melainkan “Pamong”, yaitu pendidik yang bertindak sebagai pembimbing penuh welas asih, yang mendampingi siswa sepanjang waktu dalam suasana kekeluargaan. Sistem Among menempatkan siswa sebagai pusat proses pendidikan, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan tuntunan, kepedulian, dan kasih sayang agar anak dapat tumbuh secara alami sesuai bakat dan kodratnya.

collectie tropenmuseum mevrouw s 20210823102538

Inti Sistem Among terletak pada trilogi kepemimpinan yang terkenal: Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Ketiga prinsip ini menjadi pedoman utama peran guru dalam proses pendidikan di Perguruan Taman Siswa. Prinsip pertama, Ing Ngarsa Sung Tulada, menuntut guru untuk menjadi teladan atau suri tauladan di depan siswa. Guru harus menunjukkan sikap, perilaku, etika, dan nilai-nilai kehidupan yang terpuji secara nyata, bukan hanya melalui kata-kata. Sebagai figur di garis depan, pamong diharapkan mencontohkan integritas, disiplin, kerja keras, dan kepedulian sosial sehingga siswa secara alami meniru dan menyerap nilai-nilai tersebut tanpa merasa dipaksa. Pendekatan ini mencerminkan keyakinan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan yang efektif dimulai dari keteladanan, bukan dari perintah atau hukuman.

Prinsip kedua, Ing Madya Mangun Karsa, menempatkan guru sebagai motivator dan penggerak semangat yang berada di tengah-tengah siswa. Di posisi ini, pamong bertugas membangkitkan inisiatif, kreativitas, dan dorongan belajar dengan cara bergabung bersama siswa, mendengarkan aspirasi mereka, serta menciptakan suasana yang menyenangkan dan penuh semangat. Guru tidak lagi menjadi pusat otoritas yang mendominasi, melainkan mitra yang mendorong siswa untuk mengembangkan daya cipta, rasa, dan karsa secara seimbang. Melalui pendekatan ini, siswa diajak untuk aktif berpartisipasi, menemukan minat dan bakatnya sendiri, serta merasa memiliki proses pembelajaran. Sistem Among menekankan bahwa pendidikan harus menyenangkan, kontekstual, dan demokratis, sehingga siswa tumbuh dengan rasa percaya diri dan tanggung jawab.

Prinsip ketiga, Tut Wuri Handayani, merupakan puncak filosofi Sistem Among yang paling dikenal. Guru bertindak sebagai pendukung dan fasilitator dari belakang, memberikan dorongan, arahan, dan bimbingan tanpa mengganggu kemandirian siswa. Pamong mengamati perkembangan anak dengan penuh kasih sayang, kemudian mendorong mereka untuk maju sesuai kodrat alamnya, merangsang, memupuk, dan membimbing tanpa paksaan. Dalam posisi ini, guru memberi kebebasan kepada siswa untuk bereksperimen, belajar dari kesalahan, dan mengembangkan disiplin diri sendiri. Prinsip Tut Wuri Handayani ini menjadi landasan utama bahwa pendidikan sejati adalah proses menuntun, bukan mengendalikan, sehingga siswa dapat menjadi manusia merdeka lahir dan batin, mampu mengatur diri sendiri, serta berkontribusi bagi bangsa dan masyarakat.

Dalam praktik sehari-hari di Perguruan Taman Siswa, peran guru sebagai pamong tidak terbatas pada jam pelajaran formal. Pendidikan berlangsung 24 jam dalam suasana kekeluargaan, di mana pamong tinggal bersama siswa di lingkungan perguruan yang disebut “school woning type”. Guru terlibat dalam seluruh aspek kehidupan siswa, dari kegiatan belajar, bermain, hingga kegiatan sosial, dengan pendekatan asah (mengasah kecerdasan), asih (kasih sayang), dan asuh (membimbing). Sistem ini juga didukung oleh konsep Tri Sentra Pendidikan—keluarga, perguruan, dan pergerakan pemuda—yang memperkuat peran pamong sebagai penghubung antara pendidikan formal dan kehidupan nyata. Hasilnya, siswa Taman Siswa tidak hanya pandai secara kognitif, tetapi juga memiliki karakter kuat, kreatif, dan berjiwa kebangsaan.

Meski lahir di era kolonial, Sistem Among tetap relevan hingga kini dan bahkan menjadi inspirasi bagi Kurikulum Merdeka yang diterapkan di Indonesia saat ini. Peran guru sebagai pamong menekankan bahwa pendidikan bukanlah transmisi pengetahuan semata, melainkan proses pembentukan manusia utuh yang merdeka dan bertanggung jawab. Di tengah tantangan pendidikan modern yang sering kali masih kaku dan berorientasi hasil, filosofi Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa guru yang sejati adalah yang mampu membimbing dengan hati, bukan dengan kekuasaan.

Pada akhirnya, peran guru dalam Sistem Among di Perguruan Taman Siswa bukan sekadar profesi, melainkan panggilan mulia untuk menjadi teladan, motivator, dan pendukung kemandirian siswa. Melalui trilogi Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, pamong membuktikan bahwa pendidikan yang humanis dan berbasis kasih sayang mampu melahirkan generasi yang mandiri, kreatif, dan berbudaya. Warisan Ki Hajar Dewantara ini terus menginspirasi bahwa guru yang baik bukanlah yang paling banyak mengajar, melainkan yang paling mampu menuntun siswa menemukan potensi dirinya sendiri demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Gabung ke Channel Whatsapp Untuk Informasi Sekolah dan Tunjangan Guru

GABUNG
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad