PusatDapodik
Home oot Ayat Al-Qur’an yang Melarang Terlalu Banyak Makan dan Minum

Ayat Al-Qur’an yang Melarang Terlalu Banyak Makan dan Minum

Salah satu dalil utama dalam Al-Qur’an yang secara tegas melarang manusia melakukan terlalu banyak makan dan minum terdapat dalam Surat Al-A’raf ayat 31. Allah SWT berfirman, “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” Ayat ini menjadi pedoman fundamental dalam ajaran Islam mengenai etika konsumsi. Allah SWT tidak melarang manusia menikmati rezeki berupa makanan dan minuman yang halal dan baik, melainkan melarang sikap israf atau berlebih-lebihan yang melampaui batas kebutuhan. Larangan ini mencakup tidak hanya jumlah porsi yang berlebihan, tetapi juga sikap konsumtif yang tidak terkendali, yang pada akhirnya dapat merusak kesehatan fisik, mental, serta keseimbangan spiritual.

qapdir0zbk88krq5abwi

Kata “israf” dalam ayat tersebut memiliki makna yang luas namun sangat jelas. Menurut para mufasir seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, israf dalam konteks makan dan minum berarti melampaui batas kewajaran, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Manusia diperbolehkan makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan dasar, menjaga stamina, serta menikmati nikmat Allah, tetapi tidak boleh sampai memenuhi perut secara berlebihan hingga mengganggu kesehatan atau mengurangi semangat beribadah. Beberapa ulama salaf bahkan menyatakan bahwa ayat ini mengumpulkan seluruh prinsip kedokteran dalam setengah ayat saja, karena menekankan keseimbangan sebagai kunci kesehatan. Makan terlalu banyak dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti obesitas, gangguan pencernaan, diabetes, serta membuat tubuh lamban dan hati menjadi kurang peka terhadap sesama.

Larangan ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ajaran Islam yang menyeluruh tentang moderasi (wasathiyyah) dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT menghalalkan makanan dan minuman yang baik, namun langsung diikuti dengan peringatan keras bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa sikap israf bertentangan dengan sifat syukur atas nikmat Allah. Ketika seseorang makan dan minum secara berlebihan, ia tidak lagi mengonsumsi untuk memelihara tubuh sebagai amanah, melainkan menuruti hawa nafsu semata. Akibatnya, tubuh yang seharusnya menjadi sarana beribadah justru menjadi beban, dan energi yang seharusnya digunakan untuk kebaikan malah terbuang sia-sia.

Relevansi ayat ini semakin kuat di era modern, di mana budaya makan berlebihan seperti mukbang, fast food, dan gaya hidup konsumtif semakin marak. Banyak orang mengalami masalah kesehatan akibat pola makan yang tidak terkendali, padahal Al-Qur’an telah memberikan panduan sejak empat belas abad lalu. Rasulullah SAW juga memperkuat dalil ini melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, bahwa seburuk-buruk wadah yang diisi manusia adalah perut. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas. Anjuran ini sejalan dengan ayat Al-A’raf 31, yang mengajarkan prinsip makan secukupnya agar tubuh tetap sehat, ringan, dan siap menjalankan perintah agama.

Selain dampak kesehatan, berlebihan dalam makan dan minum juga memiliki implikasi sosial dan spiritual. Orang yang terbiasa makan terlalu banyak cenderung kurang empati terhadap mereka yang kekurangan, karena nafsu telah mendominasi. Selain itu, sikap israf ini dapat mendekatkan seseorang pada sifat tabdzir (pemborosan) yang disebutkan dalam Surat Al-Isra ayat 27, di mana pemboros digambarkan sebagai saudara setan. Meskipun ayat Al-A’raf lebih spesifik pada konsumsi pribadi, keduanya saling melengkapi dalam membangun akhlak mulia: dermawan tanpa boros, dan menikmati nikmat tanpa melampaui batas.

Dalam tafsir yang mendalam, ayat ini juga mengandung pesan tentang menjaga kebersihan dan penampilan saat beribadah, yang dihubungkan langsung dengan pola makan. Makan berlebihan dapat membuat seseorang merasa berat, mengantuk, atau kurang khusyuk dalam shalat. Oleh karena itu, larangan israf bukan hanya soal fisik, melainkan juga menjaga kualitas hubungan hamba dengan Tuhannya. Islam mengajarkan pola hidup seimbang: halal, thayyib (baik), dan mu’tadil (sedang-sedang saja).

Secara keseluruhan, dalil Al-Qur’an yang paling langsung menyatakan larangan melakukan terlalu banyak makan dan minum adalah Surat Al-A’raf ayat 31, yang mengajarkan prinsip “makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” karena Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Ayat ini menjadi panduan abadi bagi umat Islam untuk mengelola nikmat rezeki dengan bijaksana, menjaga kesehatan tubuh sebagai amanah, serta menghindari segala bentuk pemborosan yang dapat merusak dunia dan akhirat. Dengan mengamalkan kandungan ayat ini, setiap Muslim diharapkan dapat hidup sehat, bersyukur, dan produktif dalam menjalankan ibadah serta tanggung jawab sosial. Di tengah godaan dunia modern yang mendorong konsumsi berlebih, ayat ini mengingatkan kita untuk kembali kepada keseimbangan yang diajarkan Allah SWT, agar nikmat makanan dan minuman menjadi berkah, bukan malapetaka bagi tubuh dan jiwa.

Gabung ke Channel Whatsapp Untuk Informasi Sekolah dan Tunjangan Guru

GABUNG
Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad