PusatDapodik
Home Guru Kesiswaan Konsep Model Pembelajaran Kontekstual di Sekolah

Konsep Model Pembelajaran Kontekstual di Sekolah

pexels photo 7970149 1

Model pembelajaran kontekstual – Upaya mengembangkan model pembelajaran merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Guru merupakan kunci keberhasilan pembelajaran di sekolah yang terlibat langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran sehingga hasil pembelajaran dapat lebih berkualitas.

Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran kontekstual (Pembelajaran Mengajar Kontekstual). Model pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Model pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya untuk memecahkan masalah simulatif dan nyata, baik secara individu maupun kelompok.

Pembelajaran model kontekstual memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (belajar melakukan) karena pembelajaran ini mengutamakan ilmu dan pengalaman yang nyata (belajar kata nyata)berpikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis, kreatif, pemecahan masalah, siswa belajar menyenangkan, mengasyikkan, tidak membosankan, (belajar yang menyenangkan dan kuantum) dan menggunakan berbagai sumber belajar.

Dalam model kontekstual, guru bertugas membantu siswa mencapai tujuan belajarnya. Dalam hal ini, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberikan informasi dan guru bertugas mengelola kelas untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa.

Karakteristik Model Pembelajaran Kontekstual

  • Lakukan komunikasi yang komunikatif (membuat hubungan yang berarti)

Siswa memposisikan dirinya sebagai orang yang belajar secara aktif untuk mengembangkan minatnya secara individu, orang yang dapat bekerja secara mandiri atau kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil melakukan. (Belajar dengan melakukan).

  • Lakukan kegiatan penting (melakukan pekerjaan penting)

Dalam hal ini, siswa dapat menghubungkan hubungan antara sekolah dengan berbagai konteks dalam kehidupan nyata.

  • Belajar dengan kecepatan Anda sendiri (belajar mandiri)

Model pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa untuk melakukan kegiatan yang memiliki tujuan, ada hubungannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan membuat pilihan, dan memiliki produk atau hasil yang nyata.

  • Bekerja sama (berkolaborasi)

Guru dan siswa dapat berkolaborasi secara efektif dalam kelompok belajar. Tugas guru adalah membantu siswa belajar sehingga terjadi hubungan yang saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.

  • Berpikir kritis dan kreatif (berpikir kritis dan kreatif)

Model pembelajaran ini mengarahkan siswa untuk dapat berpikir kritis dan kreatif dengan menganalisis, mensintesis, memecahkan masalah, mengambil keputusan dan menggunakan logika.

  • Memelihara atau memelihara kepribadian siswa (memelihara individu)

Siswa dapat mempertahankan kepribadiannya dengan mengetahui, memperhatikan, menetapkan harapan yang tinggi, memotivasi dan menguatkan diri untuk terus maju.

  • Mencapai standar tinggi (mencapai standar tinggi)

Untuk mencapai standar yang tinggi, tugas guru adalah mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa agar mampu mencapai standar yang telah ditetapkan.

  • penilaian otentik (menggunakan penilaian otentik)

Untuk tujuan yang baik (bermakna) siswa dapat menggunakan pengetahuan akademik di dunia nyata. Misalnya, siswa dapat menggambarkan informasi akademik yang telah mereka pelajari untuk dipublikasikan dalam kehidupan nyata.

Komponen Model Pembelajaran Kontekstual

Model pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yaitu; konstruktivisme (konstruktivisme)bertanya (bertanya)Temukan (pertanyaan)komunitas belajar (komunitas belajar)pemodelan (pemodelan)cerminan (Cerminan) dan penelitian yang sebenarnya (penilaian otentik).

  • Konstruktivisme (konstruktivis)

Konstruktivisme mengembangkan pikiran siswa untuk belajar lebih baik dengan bekerja sendiri, membangun pengetahuan dan keterampilan baru mereka sendiri. Pengetahuan dapat dibangun dan ditemukan sendiri oleh siswa. Siswa harus merekonstruksi pengetahuan dan kemudian menginterpretasikannya melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.

  • Menemukan (Pertanyaan)

Inkuiri adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada proses menemukan penemuan melalui proses berpikir sistematis, proses transfer dari pengamatan ke pemahaman, dan siswa dapat belajar dengan keterampilan berpikir kritis.

  • Bertanya (pertanyaan)

Bertanya merupakan salah satu bentuk rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu. Mengajukan pertanyaan dapat mendorong dialog interaktif dengan semua elemen yang terlibat dalam komunitas belajar sehingga mendorong proses dan hasil belajar yang lebih luas dan mendalam. Bertanya dapat mendorong siswa untuk berpikir lebih kritis dan dapat mendorong siswa untuk belajar lebih jauh dan mendalam.

  • Masyarakat belajar

Komunitas belajar adalah pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Pembelajaran ini dapat dilakukan dalam kelompok yang anggotanya heterogen.

Dalam praktik komunitas belajar dibentuk kelompok kecil, kelompok besar, mendatangkan ahli ke kelas, berkolaborasi dengan kelas paralel, bekerja dalam kelompok dengan senior dan junior dan berkolaborasi dengan masyarakat.

  • Pemodelan (pemodelan)

Dalam pembelajaran perlu adanya model yang dapat ditiru oleh siswa. Terkait dengan hal tersebut, modelnya bisa berupa cara melempar atau menendang bola dalam olahraga, cara mengucapkan kalimat dalam bahasa asing, cara melukis dalam mata pelajaran keterampilan, dan sebagainya. Ketika guru mampu menjadi model, dapat memotivasi siswa bahwa mereka juga bisa melakukannya.

  • Cerminan (cerminan )

Refleksi adalah upaya melihat, mengorganisasikan, menganalisis, mengklarifikasi, dan mengevaluasi hal-hal yang telah dipelajari.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pada akhir pembelajaran guru dapat merancang waktu pembelajaran yang tersisa untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan refleksi dengan mendengarkan pernyataan siswa mengenai pengetahuan apa yang telah diperoleh selama sesi pembelajaran, melihat catatan di buku siswa, melakukan diskusi. dan tanya jawab, melihat pekerjaan siswa. , dan guru dapat bertanya kepada siswa tentang kesan dan pesan selama proses pembelajaran.

  • Peringkat Asli (penilaian otentik)

Penilaian autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data untuk mengetahui kemajuan belajar siswa. Pengukuran hasil belajar tidak hanya dilakukan dengan tes (ujian/tes), tetapi juga dapat dilakukan dengan penilaian autentik yang dapat memberikan informasi yang benar dan akurat tentang apa yang diketahui dan dapat dilakukan siswa serta berkaitan dengan mutu program pendidikan.

Penilaian autentik dapat berupa karya siswa, hasil tes tertulis, penampilan presentasi, proyek atau laporan kegiatan siswa.

Perbedaan Model Pembelajaran Kontekstual dan Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang menekankan pada menghafal dan memberikan materi yang ditentukan oleh guru sehingga dalam pembelajaran siswa cenderung pasif dalam menerima informasi. Kemudian, waktu belajar siswa juga dihabiskan untuk mengerjakan tugas oleh guru. Hasil belajar siswa diukur dari kegiatan akademik berupa tes (ujian dan ulangan).

Sedangkan dalam pembelajaran kontekstual, pembelajaran didasarkan pada pemahaman makna dan pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa agar siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar.

Dalam model pembelajaran kontekstual, materi pelajaran dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa dan waktu belajar siswa dapat digunakan untuk belajar berdiskusi, bertanya, berpikir kritis, menemukan, mengerjakan proyek, dan memecahkan masalah melalui kelompok.

Keuntungan Pembelajaran Kontekstual

– Pembelajaran lebih bermakna karena siswa dituntut untuk mengaitkan pengalaman belajarnya di sekolah dengan kehidupan nyata.

– Pembelajaran kontekstual lebih produktif karena siswa dituntut untuk menemukan sendiri pengetahuannya.

– Siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar dan pengetahuan siswa berkembang sesuai dengan pengalamannya.

Comment
Share:

Ad