Baca juga: Memahami Psikologi Kognitif
Memahami Metakognisi
Pengertian Metakognisi Menurut Para Ahli
Wilson dan David (2004)
Herman dan Suryadi (2008)
Desmita (2009)
Ormrod (2009)
Zakaria (2015)
Komponen Metakognitif
Pengetahuan Metakognitif (Pengetahuan Metakognitif)
Pengalaman Metakognitif (Pengalaman Metakognitif)
Tingkat Kemampuan Metakognitif Seseorang
Penggunaan Diam-diam
Penggunaan Sadar
Penggunaan Strategis
Penggunaan Reflektif
Indikator Metakognisi
Ruang Lingkup Metakognisi
Langkah Pembelajaran Metakognisi
Tahap Diskusi Awal (Diskusi Pendahuluan)
Tahap Kerja Mandiri/Individu (Kerja Mandiri)
Tahap Kesimpulan
Memahami Metakognisi
Istilah metakognisi berasal dari bahasa Inggris yaitu metacognition yang berasal dari dua kata gabungan yaitu meta dan cognition. Istilah “meta” berasal dari bahasa Yunani yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai setelah, di luar, dengan, berdekatan, yaitu awalan yang digunakan untuk menunjukkan abstraksi suatu konsep. Sedangkan kognisi berasal dari kata latin cognoscere yang berarti mengetahui dan mengenali. Kognisi disebut juga gejala pengenalan, yaitu “tindakan atau proses mengetahui yang mencakup kesadaran dan penilaian”, sedangkan kemampuan metakognitif mencakup aspek kognisi.
Pengertian metakognisi adalah kemampuan mengendalikan domain atau aspek kognitif. Meta kognitif menguasai enam tingkat aspek kognitif yang didefinisikan oleh Benjamin Bloom dalam taksonomi Bloom yang terdiri dari tahap memori, pemahaman, penerapan, analisis, sintetik, dan evaluasi. Pada tahun 1991 taksonomi ini direvisi oleh David Krathwohl menjadi mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan sesuatu sesuai dengan kemampuan siswa.
Pengertian metakognisi adalah kesadaran, keyakinan dan pengetahuan seseorang tentang proses dan cara berpikir terhadap hal-hal yang dilakukannya sendiri sehingga dapat meningkatkan proses belajar dan daya ingat.
Metakognisi merupakan aktivitas mental yang memungkinkan seseorang mengatur, mengatur dan memantau seluruh proses berpikir yang dilakukan ketika memecahkan masalah.
Metakognisi juga diartikan sebagai suatu bentuk kemampuan dalam memandang diri sendiri, sehingga apa yang dilakukan seseorang dapat terkontrol secara maksimal.
Istilah metakognisi pertama kali diperkenalkan pada tahun 1976 oleh seorang psikolog dari Stanford University bernama John Flavell. Menurut John Flavell, metakognisi adalah memikirkan pemikiran seseorang atau pengetahuan tentang proses kognitifnya. Kata metakognisi terdiri dari dua kata yaitu meta yang berarti setelah, melampaui, atau di atas. Sedangkan kognisi berarti mencakup keterampilan yang berkaitan dengan proses berpikir.
Pengertian Metakognisi Menurut Para Ahli
Wilson dan David (2004)
Pengertian metakognisi menurut Wilson dan David adalah kesadaran, pertimbangan dan pengendalian atau pemantauan siswa terhadap strategi dan proses kognitifnya sendiri.
Herman dan Suryadi (2008)
Pengertian metakognisi menurut Herman dan Suryadi adalah kesadaran seseorang terhadap proses berpikirnya ketika menjalankan tugas tertentu dan kemudian menggunakan kesadarannya untuk mengendalikan apa yang dilakukannya.
Baca juga: Memahami Kecerdasan
Desmita (2009)
Pengertian metakognisi menurut Desmita adalah pengetahuan tersurat yang dimiliki manusia tentang cara berpikir dan aturan-aturan yang diciptakannya sendiri agar dapat melaksanakannya ketika menerapkan pengetahuan tersebut.
Ormrod (2009)
Pengertian metakognisi menurut Ormrod adalah pengetahuan dan keyakinan tentang proses kognitif seseorang, serta upaya sadar untuk terlibat dalam proses perilaku dan berpikir sehingga dapat meningkatkan proses belajar dan memori.
Zakaria (2015)
Pengertian metakognisi menurut Zakariya adalah pengetahuan seseorang tentang sistem kognitifnya, pemikiran seseorang tentang pemikirannya, dan keterampilan penting seseorang dalam belajar belajar.
Komponen Metakognitif
Berdasarkan Flavell (Desmita, 2010)ada 2 komponen metakognisi, yaitu:
Pengetahuan Metakognitif (Pengetahuan Metakognitif)
Yang dimaksud dengan pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan yang diperoleh tentang proses kognitif, yaitu pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengendalikan proses kognitif. Selain itu, pengetahuan metakognitif juga dapat diartikan sebagai pengetahuan yang dimiliki dan disimpan seseorang dalam memori jangka panjang yang dapat diaktifkan atau diingat kembali sebagai hasil pencarian memori secara sadar dan disengaja, atau diaktifkan secara tidak sengaja atau otomatis muncul ketika seseorang berada. dihadapkan pada suatu permasalahan. masalah tertentu.
Ada 3 jenis pengetahuan metakognitif, antara lain:
- Pengetahuan deklaratif mengacu pada pengetahuan tentang fakta dan konsep yang dimiliki seseorang atau faktor-faktor yang mempengaruhi pemikiran dan perhatiannya dalam memecahkan masalah.
- Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, bagaimana melakukan langkah-langkah atau strategi dalam suatu proses pemecahan masalah.
- Pengetahuan kondisional mengacu pada kesadaran seseorang terhadap kondisi yang mempengaruhi dirinya dalam memecahkan masalah, seperti: kapan strategi harus diterapkan, mengapa menerapkan strategi dan kapan strategi tersebut digunakan dalam menyelesaikan masalah.
Pengalaman Metakognitif (Pengalaman Metakognitif)
Pengertian pengalaman atau regulasi metakognitif adalah pengaturan kognisi dan pengalaman belajar seseorang yang mencakup serangkaian aktivitas yang dapat membantu dalam mengendalikan aktivitas belajarnya.
Pengalaman metakognitif melibatkan strategi metakognitif atau regulasi metakognitif. Strategi metakognitif adalah proses berurutan yang digunakan untuk mengontrol aktivitas kognitif dan memastikan bahwa tujuan kognitif telah tercapai.
Baca juga: Memahami Kecerdasan Moral
Ada tiga proses pengalaman metakognitif, antara lain:
Proses perencanaanyaitu keputusan tentang berapa banyak waktu yang digunakan untuk menyelesaikan masalah, strategi apa yang digunakan, sumber daya apa yang harus dikumpulkan, bagaimana memulainya, dan mana yang harus diikuti atau tidak dilakukan terlebih dahulu.
Proses Pemantauan, yaitu kesadaran langsung tentang bagaimana kita melakukan suatu aktivitas kognitif. Proses pemantauan memerlukan pertanyaan seperti: apakah hal ini masuk akal? Bisakah saya melakukannya lebih cepat? Dan seterusnya.
Proses evaluasi. Hal ini mencakup pengambilan keputusan tentang proses yang dihasilkan berdasarkan hasil berpikir dan belajar. Misalnya, bisakah saya mengubah strategi yang digunakan? Apakah saya memerlukan bantuan? Dan seterusnya.
Tingkat Kemampuan Metakognitif Seseorang
Menurut Swartz dan Perkins (Mahromah, 2012), terdapat beberapa tingkatan kemampuan metakognitif seseorang, antara lain:
Penggunaan Diam-diam
Penggunaan diam-diam adalah jenis pemikiran yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tanpa memikirkan keputusan tersebut. Dalam hal ini siswa menerapkan strategi atau keterampilan tanpa kesadaran khusus atau melalui trial and error dan sembarangan dalam menjawab soal.
Penggunaan Sadar
Penggunaan sadar merupakan suatu jenis pemikiran yang berkaitan dengan kesadaran siswa mengenai apa dan mengapa siswa melakukan pemikiran tersebut. Dalam hal ini siswa menyadari bahwa ia harus menggunakan suatu langkah pemecahan masalah dengan memberikan penjelasan alasan memilih langkah tersebut.
Penggunaan Strategis
Penggunaan strategis adalah suatu jenis berpikir yang berkaitan dengan pengaturan sadar individu terhadap proses berpikirnya dengan menggunakan strategi khusus yang dapat meningkatkan ketepatan berpikirnya. Dalam hal ini siswa sadar dan mampu memilih strategi atau keterampilan tertentu untuk memecahkan masalah.
Penggunaan Reflektif
Penggunaan reflektif adalah suatu jenis berpikir yang berkaitan dengan refleksi individu dalam proses berpikirnya sebelum dan sesudah atau bahkan selama proses tersebut dengan mempertimbangkan kelanjutan dan peningkatan hasil berpikirnya. Dalam hal ini siswa menyadari dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan dalam langkah pemecahan masalah.
Indikator Metakognisi
Kemampuan metakognitif seseorang dapat diketahui melalui tiga komponen atau unsur dasar seperti unsur perencanaan, unsur pengendalian dan unsur penilaian. Berikut indikator komponen metakognisi, antara lain:
Indikator Perencanaanterdiri dari:
- Menentukan informasi awal dan petunjuk awal terkait masalah.
- Menentukan/mengatur hal-hal yang harus dilakukan.
- Pertimbangkan waktu yang dibutuhkan.
- Pastikan kesesuaian informasi dengan permasalahan.
Baca juga: Pengertian Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)
Indikator Pemantauanterdiri dari:
- Kelola setiap langkah agar berjalan dengan baik.
- Analisis informasi penting untuk diingat.
- Putuskan langkah apa yang harus diambil selanjutnya, apakah perubahan perlu dilakukan atau dipindahkan ke arah lain.
- Putuskan langkah apa yang harus diambil jika Anda menemui masalah.
Indikator Penilaianterdiri dari:
- Periksa kembali apakah setiap langkah telah berjalan dengan baik.
- Periksa kembali apakah diperlukan pertimbangan khusus lainnya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
- Perkirakan kemungkinan cara lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
- Perkirakan kemungkinan penggunaan strategi yang telah digunakan untuk memecahkan masalah lain.
Ruang Lingkup Metakognisi
Dilihat dari ruang lingkupnya, metakognisi dapat dilihat sebagai bagian dari “Cognitive Monitoring Model” yang dikemukakan oleh Flavell (1992: 4) yang menyajikan hubungan dinamis antara empat komponen, yaitu pengetahuan metakognitif, pengalaman metakognitif, tujuan (atau tugas), dan tindakan (atau strategi).
Pengetahuan metakognitif merupakan pengetahuan seseorang tentang unsur-unsur yang mempengaruhi jalannya kognisi dan hasil proses kognitifnya sendiri, yang meliputi:
- Kepribadian mengacu pada apa yang diyakini seseorang tentang keadaan pikirannya sendiri (cerdas, kurang cerdas)
- Tugas yaitu hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan seseorang tentang sifat-sifat tertentu (sulit atau mudah)
- Strategi, hal ini berkaitan dengan pengetahuan seseorang tentang bagaimana mengeja suatu kegiatan (lebih tepat, kurang tepat, dan sebagainya).
Dalam pembelajaran, pengetahuan metakognitif yang dimiliki siswa berkaitan dengan rasa percaya dirinya terhadap kecerdasan yang dimilikinya, seberapa luas pengetahuannya, kesadaran akan tingkat kesulitan tugas yang dikerjakannya dan apa yang dianggapnya sebagai cara terbaik untuk menyelesaikan pembelajarannya. tugas.
Pengalaman metakognitif adalah pengalaman yang mengikuti aktivitas intelektual seseorang. Meskipun pengalaman umumnya mempunyai unsur afektif, namun sepanjang prosesnya melibatkan unsur kognitif.
Pengetahuan metakognitif yang mengandung keyakinan berfungsi sebagai acuan dan rujukan pengalaman metakognitif. Dalam pengalaman metakognitif, terdapat perasaan dan rasa ingin tahu yang berperan sebagai pemantau dan pengarah (proses) serta dapat memberikan sejumlah dampak penting terhadap tujuan, sedangkan strategi kognitif dan tindakan ekspresif berperan sebagai pelaksana dalam rangka mencapai tujuan.
Langkah Pembelajaran Metakognisi
Menurut Apriani (2012), langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode metakognisi antara lain:
Baca juga: Memahami Kecerdasan Sosial
Tahap Diskusi Awal (Diskusi Pendahuluan)
Pertama, guru menjelaskan tujuan topik yang akan dipelajari. Setiap siswa diberikan bahan ajar dan penanaman konsep dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam bahan ajar. Siswa dibimbing untuk menumbuhkan kesadaran dengan bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam bahan ajar. Melalui soal-soal yang diberikan, siswa diharapkan dapat memahami uraian materi dan mengetahui apa yang dikerjakannya, bagaimana cara mengerjakannya, bagian mana yang belum dipahaminya, pertanyaan apa saja yang muncul dan bagaimana cara mencoba mencari penyelesaiannya. . Contoh pertanyaan pada tahap ini adalah “Apakah saya memahami seluruh uraian materi?” Jika Anda tidak mengerti, apa yang ingin saya tanyakan? Diskusikan pertanyaan tersebut dengan kelompok. Apa hasil diskusinya?
Tahap Kerja Mandiri/Individu (Kerja Mandiri)
Siswa diberikan permasalahan dengan topik yang sama dan mengerjakannya secara individu. Guru berkeliling kelas dan memberikan pengaruh timbal balik secara individu. Pengaruh timbal balik metakognitif akan membimbing siswa untuk fokus pada kesalahannya dan memberikan petunjuk agar siswa dapat memperbaikinya sendiri. Guru membantu siswa memantau cara berpikirnya, tidak hanya memberikan jawaban yang benar ketika siswa melakukan kesalahan tetapi juga membimbing proses berpikirnya agar siswa menemukan jawaban yang benar.
Tahap Kesimpulan
Pada tahap kesimpulan, siswa merekapitulasi apa yang telah dilakukan di kelas. Pada tahap ini siswa mengambil kesimpulan sendiri, dan guru membimbingnya dengan mengajukan pertanyaan seperti:
- Apa yang telah anda pelajari hari ini?
- Apa yang Anda pelajari tentang diri Anda dalam memecahkan masalah matematika yang diberikan?
Baca juga: Memahami Berpikir Kritis
Demikianlah artikel membahas pengertian metakognisi secara lengkap menurut para ahli, komponen, indikator, ruang lingkup dan langkah-langkah pembelajaran metakognisi. Semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan lainnya.








