PusatDapodik
Home Guru Pembelajaran Perkembangan Jalur Perdagangan dan Transportasi Internasional di Indonesia

Perkembangan Jalur Perdagangan dan Transportasi Internasional di Indonesia

Dalam memperkuat perekonomian negara, salah satu landasannya adalah transportasi dan perdagangan internasional atau kegiatan ekspor-impor. Apalagi Indonesia sangat ditunjang dengan letaknya yang strategis sebagai negara maritim, dimana wilayah lautnya dilalui oleh kapal-kapal baik milik dalam negeri maupun luar negeri.

Sayangnya, untuk memperkuat perekonomian dari jalur transportasi dan perdagangan internasional ini, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Secara historis, kapal-kapal Indonesia telah lama mengarungi lautan untuk berdagang. Hal ini terlihat dari Kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara. Kerajaan Majapahit juga memberdayakan perairan di Nusantara sebagai jalur perdagangan, kerjasama antar negara, dan pertukaran budaya.

Setelah Kerajaan Majapahit runtuh, Demak berkembang menjadi pusat maritim dan banyak pelabuhan tumbuh di pulau Jawa untuk mengeksplorasi beras dan rempah-rempah. Maka tak heran jika sejak dulu laut Indonesia menjadi jalur transportasi dan perdagangan internasional.

Menurut data Bappenas, sekitar 90% perdagangan internasional diangkut melalui laut dan sekitar 40% melewati Indonesia. Laut Indonesia memang penting untuk jalur transportasi dan perdagangan internasional karena jalur pelayaran dari Asia Timur dan Tenggara ke Asia Selatan, Eropa, Afrika, dan Australia melewati perairan Indonesia.

Baca juga: Hambatan Perdagangan Internasional

Namun demikian, tingginya penggunaan transportasi laut dalam perdagangan domestik dan internasional harus diimbangi dengan pengembangan kapasitas dan konektivitas pelabuhan dalam bentuk pembaruan dan pemeliharaan infrastruktur. Saat ini, pemerintah sedang mengembangkan konsep tol laut untuk memperkuat dan menghubungkan jalur pelayaran dari barat ke timur Indonesia.

Saat ini terdapat 141 pelabuhan yang dibuka untuk perdagangan internasional, hal ini tidak diimbangi dengan banyaknya armada laut yang menyebabkan waktu tunggu relatif tinggi yaitu 27-47 jam, Gross Crane Productivity (kegiatan bongkar muat peti kemas) dan Crane The loading and intensitas pembongkaran masih relatif rendah, dan Waktu Tinggal Domestik (waktu penumpukan peti kemas) masih relatif tinggi. Kondisi ini harus kita perbaiki agar bisa bersaing dengan negara lain.

Tol laut merupakan konsep transportasi logistik laut untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar di Nusantara. Hubungan antar pelabuhan tersebut dapat menciptakan kelancaran distribusi barang ke daerah-daerah terpencil. Keberadaan tol laut untuk pengiriman barang menjadi efisien karena menggunakan kapal dengan kapasitas besar dan jadwal pengiriman yang pasti.

Silakan ikuti dan sukai kami:

Comment
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ad